Suplemen Vitamin D Membantu Kekurangan Kalsium Akibat Penggunaan Tenofovir 
Next >
Next >
Next >
 

 
Next >
 
 
Next >
 
 
Next >
 
Next >
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Memberi suplemen vitamin D pada pasien pengguna tenofovir membantu mengurangi tingkat hormon – hormon paratiroid atau PTH – penyebab kekurangan kalsium pada tulang. Hal itu ditemukan dalam penelitian bersama London/New York.

Walaupun osteopenia dan osteoporosis (kehilangan kalsium pada tulang) adalah umum pada pasien AIDS, baik dengan atau tanpa terapi tenofovir, salah satu obat yang
paling dipakai secara luas, juga dikaitkan dalam beberapa penelitian tentang kehilangan mineral tulang yang lebih tinggi. Namun, mekanismenya tidak jelas, atau bahkan apakah tenofovir memang merupakan penyebab langsung osteopenia.

Vitamin D yang tampak kurang pada hampir semua pasien AIDS, juga penting untuk metabolisme tulang dan dalam kedua penelitian itu serta sebuah penelitian lain yang juga dipresentasikan dalam Konferensi BHIVA 2009.

Para peneliti, dari King’s College Hospital di London dan Mount Sinai Hospital di New York, berteori bahwa ‘hubungan yang hilang’ antara HIV, tenofovir, vitamin D dan kehilangan kalsium, adalah PTH. Hormon itu menyebabkan kalsium dikeluarkan dari tulang ke dalam aliran darah, yang dibutuhkan untuk mengatur susunan saraf; sebaliknya tingkat kalsium yang tinggi menghentikan pengeluaran PTH, dalam sebuah putaran arus balik. Namun apabila tingkat PTH diatur di tingkat yang terlalu tinggi, terlalu banyak kalsium dikeluarkan dari tulang.

Hipotesis yang diselidiki oleh para peneliti adalah bahwa HIV agaknya menyebabkan penurunan tingkat vitamin D, yang mengakibatkan darah kekurangan kalsium. Hal itu meningkatkan tingkat PTH, yang menyebabkan hilangnya sebagian mineral tulang yang terlihat pada infeksi HIV. Kemudian tingkat PTH kian ditingkatkan oleh tenofovir, sehingga memburukkan hilangnya mineral tulang.

Oleh karena itu, tim peneliti mengukur tingkat vitamin D dan PTH pada 45 laki-laki yang memakai obat HIV. Mereka menemukan tingkat sub-optimal vitamin D (didefinisikan sebagai di bawah 30 nanogram per mililiter) pada sebagian besar laki-laki – 71% – dan 41% memiliki tingkat PTH di atas normal.

Seluruh pasien dengan PTH tinggi memakai tenofovir, dan tidak ada orang dengan tingkat vitamin D normal atau lebih tinggi memiliki PTH tinggi.

Ada 17 di antara 45 pasien disarankan memakai suplemen vitamin D karena memiliki tingkat vitamin D yang sangat rendah; di antara mereka, 14 melaporkan patuh memakai suplemen. Tingkat vitamin D meningkat pada 14 pasien tersebut dan tingkat PTH menurun pada sembilan dari 14 pasien. Semakin tinggi tingkat PTH pasien pada awal, semakin banyak penurunan PTH yang dialami dengan memakai vitamin D. Kelima pasien dengan tingkat PTH tertinggi pada awal memiliki penurunan PTH terbesar; dimulai dengan penurunan tiga kali lipat, dan terus menurun ke tingkat normal. Seluruh pasien memakai tenofovir. Sebaliknya pada enam pasien dengan tingkat PTH terendah pada awal, angka itu tetap sama persis.

Penelitian ini adalah awal dan kecil, dan hasilnya perlu dihadapi secara hati-hati. Pertama, penelitian itu terlalu kecil untuk mengabaikan kemungkinan pembaur – alasan lain orang mungkin memiliki tingkat vitamin D rendah atau PTH tinggi. Kedua, karena kekurangan vitamin D tampak pada hampir semua pasien Odha (penelitian lain mengamati pada lebih dari 1.000 pasien di King’s College Hospital menemukan tingkat vitamin D di bawah normal pada 91% pasien), tidak jelas makna suplemen vitamin D secara klinis atau apakah, pada pasien yang memakai atau tidak memakai tenofovir, suplemen vitamin D akan membantu memperbaiki kehilangan mineral tulang.

sumber : www.kalbe.co.id
Minum Jamu Bisa Sebabkan Sakit Ginjal ? 
Ginjal merupakan salah satu organ penting yang dimiliki manusia. Namun demikian masih banyak saudara kita  yang belum mengenalnya secara mendalam. Hal ini menyebabkan pengetahuan saudara kita tentang Ginjal beserta penyakit, cara pencegahan dan pengobatan penyakit ginjal juga  rendah.  Agar tidak salah kaprah sekaligus  dapat menjaga kesehatan organ tubuh kita yang bernama Ginjal.
Ginjal adalah organ tubuh yang berfungsi sebagai alat filtrasi, mengeluarkan kelebihan garam, air,  asam,  membuang atau mengatur elektrolit seperti K, Ca, Mg, PO4, dan  sisa metabolisme tubuh. Ginjal juga bertugas melakukan sekresi untuk menghasilkan EPO yang berfungsi mengatur Haemoglobin darah (HB), aktivasi vitamin D untuk kesehatan tulang, serta mensekresi renin untuk mengatur tekanan darah. Kerusakan pada jaringan ginjal disebabkan oleh racun-racun yang masuk melalui mulut, penghancuran jaringan otot. Maka racun-racun harus dihindari agar tidak terjadi kerusakan ginjal.

Produk jamu tradisional atau alami yang banyak dijual dan beredar di pasaran yang berbentuk pil atau bubuk, sering dituding berbahaya bagi kesehatan ginjal. Minum jamu akan berbahaya bagi kesehatan ginjal jika diminum melebihi dosis-nya dan / atau tanpa disertai dengan banyak-banyak minum air (air putih lebih baik), karena ginjal itu tugasnya membuang air, sisa cairan dan metabolit didalamnya dengan menyaring darah yang tersuplai ke ginjal. Jika tidak disertai dengan kebiasaan banyak minum, bisa dibayangkan darah yang dialirkan ke ginjal untuk disaring dan dibuang itu berkonsentrasi yang cukup pekat, ditambah lagi dengan adanya senyawa metabolit jamu. Organ ginjal bisa cepat rusak kalau harus menyaring cairan konsentrat terus menerus. Dan akan lebih berbahaya lagi, kalau ternyata jamu yang dibeli dan dikonsumsi itu ternyata mengandung senyawa obat sintetis (dikhawatirkan reaksi antara jamu dan obat sintetis ternyata saling bertolak belakang). Bisa-bisa terjadi reaksi komplikasi. juga pemakaian jamu yang dalam jangka waktu lama bisa berdampak penumpukan senyawa metabolitnya di organ - organ, misalnya di hati, saluran pencernaan ataupun ginjal.

Selain asupan dari luar, faktor lain yang menjadi penyebab resiko munculnya penyakit Ginjal adalah  tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, penyakit jantung pembuluh darah, dan faktor keturunan. Faktor lainnya adalah usia diatas 60 tahun, sakit Lupus atau penyakit autoimun lainnya, obesitas/kegemukan, infeksi saluran kemih, batu ginjal dan  maupun badan berat rendah saat  lahir. Meskipun jarang terjadi, beberapa beberapa orang suka mengalami yang disebut gagal ginjal kronik ada yang disebabkan oleh kelainan yang diturunkan. Penyakit keturunan seperti penyakit ginjal polikistik dapat menyebabkan gagal ginjal kronik.

Penyakit ginjal tergolong penyakit kronis yang tidak menular, tapi merupakan pencetus berbagai macam penyakit berbahaya. Misalnya, jantung koroner, stroke, hipertensi, serta diabetes melitus. Penyakit-penyakit tersebut saat ini menjadi ancaman utama di dunia kesehatan. Tanda dan gejala terjadinya penyakit gagal ginjal akut antara lain : Bengkak mata, kaki, nyeri pinggang hebat (kolik), kencing sakit, demam, kencing sedikit, kencing merah /darah, sering kencing. Kelainan Urin: Protein, Darah / Eritrosit, Sel Darah Putih / Lekosit, Bakteri.. Tanda dan gejala terjadinya gagal ginjal kronik antara lain : Lemas, tidak ada tenaga, nafsu makan menurun, sering mual, muntah, bengkak, kencing berkurang, gatal, sesak napas, pucat/anemia. Kelainan urin: Protein, Eritrosit, Lekosit. Kelainan hasil pemeriksaan Lab. lain: Creatinine darah naik, Hb turun, Urin: protein selalu positif.

Cara pencegahan yang cukup baik adalah mengonsumsi air yang cukup, menghindari konsumsi jamu untuk jangka panjang, menghindari konsumsi obat-obatan sembarangan dan sebagainya. Cara lainnya adalah berolahraga teratur, berhenti merokok, makan dengan menu seimbang, hindari kekurangan cairan dengan minum minimal rata-rata 1-1,5 liter air putih per hari.


Sumber : www.DechaCare.com
Obat dan Suplemen



[index]
[index]