Next >
Next >
 
 
Next >
 
 
Next >
 
 
Next >
 
 
Next >
 
Next >
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
SUNAT  MELINDUNGI  TERHADAP
PENYAKIT  HERPES  DAN  HIV

Temuan baru dari uji coba terkontrol secara acak (randomised controlled trial/RCT) terhadap sunat di Afrika Selatan menemukan bahwa HIV dan virus herpes simpleks 2 (HSV-2) secara independen saling menguatkan dampaknya. Di dalam penelitian itu orang dengan salah satu infeksi lebih mungkin tertular infeksi yang lain. Penelitian itu juga menemukan bahwa sunat melindungi laki-laki dalam penelitian terhadap HSV-2 serta HIV.
Namun penelitian tidak menemukan bahwa infeksi HSV-2 berdampak positif maupun negatif terhadap dampak perlindungan anti-HIV oleh sunat: laki-laki yang disunat selama penelitian memiliki tingkat penurunan risiko infeksi HIV yang sama, terlepas dari status HSV-2-nya.

Dalam komentar terpisah tentang penelitian itu, Robert C Bailey, peneliti utama tentang RCT terhadap sunat di Kisumu, Kenya, berkomentar bahwa hal itu mungkin karena penelitian itu memantau infeksi herpes dengan tes antibodi tetapi gejala herpes – jangkitan lesi tidak dipantau.

Subpenelitian baru ini meneliti 2.974 laki-laki muda (berusia 18-24 tahun saat pendaftaran uji coba) dari 3.274 yang mendaftar dalam uji coba sunat. Penelitian itu melibatkan 122 laki-laki (6,6%) yang sudah memiliki HIV saat pendaftaran dan dikeluarkan dari uji coba sunat.

Penelitian itu mengamati status HIV dan HSV-2 mereka pada 21 bulan setelah secara acak dimasukkan dalam kelompok intervensi (yang ditawarkan untuk disunat waktu mulai penelitian) dan kelompok kontrol (yang ditawarkan untuk disunat waktu penelitian berakhir). Pada saat itu 4,4% laki-laki sudah menjadi HIV-positif dan 5,9% HSV-2 positif.

Dicatat bahwa prevalensi HSV-2 dalam penelitian lebih rendah dibandingkan pada populasi umum, sebagian besar karena usia laki-laki itu. Sebagaimana pada HIV, tingkat HSV-2 meningkat secara cepat pada akhir masa remaja dan awal usia 20-an tahun, waktu laki-laki muda itu paling aktif secara seksual. Prevalensi HSV-2 di antara populasi laki-laki umum ditemukan 32% untuk semua usia, meningkat dari 1,8% pada usia di bawah 19 tahun menjadi 14% di antara laki-laki berusia 20-24 tahun. Prevalensi HSV-2 pada perempuan lebih dari dua kali lipat, 68% untuk semua usia.

Memiliki herpes berdampak sangat bermakna terhadap kemungkinan tertular HIV. Ada 1,7% laki-laki HSV-2 negatif dan 6,6% laki-laki HSV-2 positif waktu pendaftaran, yang tertular HIV selama penelitian serta 14,3% laki-laki tertular HIV dan HSV-2 selama penelitian. Hal itu berarti bahwa kemungkinan laki-laki yang sudah terinfeksi HSV-2 tertular HIV adalah empat kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki HSV-2 negatif, dan laki-laki yang tertular HSV-2 adalah 8,8 lebih tinggi.

Laki-laki yang sudah terinfeksi HIV empat kali lebih mungkin tertular HSV-2 dibandingkan laki-laki HSV-2 negatif, dan laki-laki yang tertular HIV 7,7 kali lebih mungkin tertular HSV-2.

Sunat melindungi terhadap HSV-2 dan juga HIV, walaupun dampak tersebut tidak begitu kuat. Dalam analisis mangkir berarti gagal (intent to treat/ITT) kejadian HSV-2 per tahun di antara laki-laki yang dikelompokkan secara acak ke dalam kelompok kontrol adalah 3,54% dan pada laki-laki dalam kelompok intervensi adalah 2,33%, berarti bahwa kemungkinan laki-laki dalam kelompok sunat tertular HSV-2 adalah sepertiga lebih rendah. Angka itu tidak bermakna secara statistik (p = 0,12).

Namun, ada ‘penyilangan’ yang bermakna di dalam penelitian itu, berarti bahwa beberapa laki-laki yang masuk kelompok sunat ternyata tidak disunat, sementara beberapa dari kelompok kontrol memutuskan untuk disunat sebelum penelitian berakhir. Dalam analisis sesuai tindakan ‘as treated’ (AT), yang mengamati bukan hanya laki-laki di dalam kelompok penelitian tetapi apakah mereka sungguh sudah disunat atau tidak, perbedaannya bermakna secara statistik (p = 0,028). Dalam analisis AT, kejadian HSV-2 per tahun pada laki-laki yang tetap tidak disunat adalah 3,8% dan pada laki-laki yang disunat adalah 2,1%. Itu adalah penurunan risiko 45%.

Mengamati peningkatan risiko relatif infeksi HIV di antara peserta penelitian HSV-2, memungkinkan para peneliti untuk menghitung proporsi infeksi HIV yang diakibatkan oleh infeksi HSV-2, yaitu 26%; dengan kata lain profilaksis anti-HSV-2 yang sempurna mungkin dapat mengurangi 26% infeksi HIV.

Penelitian di Tanzania dan lima di negara lain, memberikan asiklovir sebagai profilaksis kepada perempuan dan laki-laki gay yang HIV-negatif, tidak menemukan bahwa obat itu berdampak terhadap infeksi HIV, baik karena ketidakpatuhan atau karena penggunaan asiklovir tidak menekan penyebaran HSV-2 secara tuntas. Hasil penelitian yang memberikan asiklovir kepada orang HIV-positif untuk menemukan apakah mereka lebih jarang menularkan HIV masih dinantikan.

Dalam komentar bersama, Robert C Bailey dan Surpriya Mehta dari Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Illinois berkomentar bahwa mengingat prevalensi herpes secara keseluruhan dalam penelitian lebih rendah dibandingkan pada masyarakat umum, temuan bahwa seperempat penularan adalah karena HSV-2 merupakan temuan ‘bermakna’. ‘Hitungan penularan HIV berdasarkan populasi’ akan lebih besar pada populasi yang memiliki lebih banyak HSV-2.

Mereka menambahkan bahwa walaupun penekanan herpes tidak berhasil dalam RCT, dampak penurunan herpes dan HIV di antara laki-laki yang disunat mungkin saling menguatkan setelah beberapa waktu, menghasilkan ‘lingkaran bermanfaat’ pada penurunan infeksi. Para peneliti mendesak penelitian vaksin HSV-2.

Infeksi HSV-2 tidak tampak berdampak terhadap perlindungan sunat terhadap HIV. Dampak perlindungan sunat adalah 62% pada laki-laki yang HSV-negatif selama penelitian, 63% laki-laki yang HSV-positif selama penelitian dan 55% pada laki-laki yang tertular HSV-2 selama penelitian, dalam analisis ITT. Dalam analisis AT dampak perlindungan sunat adalah 76% pada laki-laki yang HSV-negatif selama penelitian, 80% laki-laki yang HSV-positif selama penelitian dan 72% pada laki-laki yang tertular HSV-2 selama penelitian.

Bailey dan Mehta berkomentar bahwa ketiadaan perbedaan pada kemanjuran sunat mungkin karena para peneliti hanya mengukur infeksi HSV-2 dengan tes antibodi, dan tidak mengamati serangan herpes tanpa gejala dengan menghitung lesi. Apabila kemampuan penularan HIV pada orang dengan HSV-2 lebih tinggi secara bermakna pada orang dengan herpes bergejala, mungkin dapat dikatakan bahwa sunat memiliki ‘nilai tambah’ dalam kasus orang dengan HSV-2.



Sumber : www.kalbe.co.id





Kesehatan Pria



[index]